Jakarta. 27 Sep 2026
Pagi Terakhir di Jakarta
27 September 2026.
Jam tiga dini hari.
Jakarta masih tertidur ketika aku membuka mata. Jalanan di luar jendela belum sepenuhnya hidup, lampu-lampu kota masih menyala seperti bintang yang enggan padam. Hari ini adalah hari terakhirku di Jakarta, kota yang selama beberapa waktu terakhir bukan hanya menjadi tempat singgah, tetapi juga menjadi saksi perjalanan panjang yang telah kami tempuh selama enam bulan.
Pagi itu aku harus berangkat menuju Jogja.
Ada rasa senang karena akhirnya perjalanan ini memberiku kesempatan untuk berlibur, untuk sedikit menarik napas setelah berbulan-bulan berlari. Tetapi di balik itu, ada sesuatu yang terasa berat. Aku harus meninggalkan timku.
Lucu rasanya.
beberapa waktu lalu kami datang ke Jakarta sebagai orang-orang yang hanya saling membawa mimpi. Hari ini kami harus berpisah sebagai orang-orang yang telah melewati begitu banyak hal bersama. Tawa, tekanan, diskusi panjang, revisi, kegagalan, harapan, dan malam-malam yang mungkin tidak akan pernah terulang dengan cara yang sama.Aku bahagia pernah berada di antara mereka.
Dan mungkin justru karena itulah perpisahan pagi ini terasa sedikit lebih berat.
Selama berada di Jakarta, aku benar-benar merasakan bagaimana rasanya dimanjakan.
Hotel Mulia Senayan menjadi tempat kami beristirahat. Fasilitasnya begitu jauh dari apa yang biasa kami nikmati sehari-hari. Sesekali aku sampai berpikir, “Wah, begini rupanya rasanya jadi orang kaya baru.” Wkwkwk.
Tetapi ada satu hal yang selalu menjadi momen paling kami tunggu sebagai peserta:
sarapan.
Entah bagaimana menjelaskannya, tetapi sarapan di sana seperti sebuah perayaan kecil setiap pagi.
Mejanya penuh. Pilihannya hampir tidak masuk akal banyaknya. Berbagai makanan tersaji, dan semuanya terlihat seperti berkata, “Silakan ambil sebanyak yang kamu mau.”
Dan tentu saja, aku menikmatinya.
Mungkin selama kegiatan ini tubuhku sedang menjalani program perbaikan gizi.
Aku bahkan punya prinsip sendiri: kalau bisa memilih lauk, kenapa harus terlalu banyak nasi?
Maka selama kegiatan, hampir tidak pernah aku makan nasi. Lauknya saja.
Daging menjadi favoritku. Aku selalu melihat makanan bukan hanya dari rasanya, tetapi juga dari pertanyaan sederhana: “Mana yang paling banyak gizinya?” Wkwkwk.
Namun di balik segala kenyamanan itu, tubuhku justru seperti sedang mengingatkanku bahwa perjalanan ini tidak sepenuhnya mudah.
Entah mengapa, selama berada di sini imunku terasa begitu lemah. Aku lebih mudah sakit, lebih mudah lelah. Mungkin tubuhku sedang meminta haknya setelah terlalu lama dipaksa mengejar banyak hal.
Tetapi anehnya, meskipun tubuh kadang menyerah, semangatku tidak pernah benar-benar mau pulang.
Sebab aku datang ke Jakarta bukan sekadar untuk menikmati hotel, makanan, atau fasilitas yang diberikan.
Aku datang membawa ambisi.
Ambisi untuk membuktikan bahwa enam bulan perjalanan kami bukan sesuatu yang sia-sia.
Dan aku benar-benar percaya kami akan sampai lebih jauh.
Setidaknya, sampai pengumuman itu tiba.
Runtuh, Lalu Pulang Membawa Janji
Ada satu momen dalam perjalanan ini yang sampai sekarang masih terasa berat untuk kutulis.
Pengumuman.
Selama enam bulan, kami berjalan dengan keyakinan bahwa kami telah memberikan yang terbaik. Kami bekerja, berdiskusi, memperbaiki, mengulang, mempertanyakan, kemudian mencoba lagi. Berkali-kali kami jatuh, lalu berdiri bersama. Dan semakin dekat dengan hari pengumuman, semakin besar pula keyakinanku.
Aku percaya kami akan masuk Top 20.
Bukan karena merasa paling hebat.
Tetapi karena aku benar-benar percaya pada perjalanan yang telah kami lalui.
Maka ketika nama kami tidak ada di sana
rasanya seperti ada sesuatu yang runtuh di dalam dada.
Bukan sekadar kecewa.
Ada bagian dari ambisiku yang seolah dipatahkan dalam satu malam.
Diam.
Mungkin begitulah rasanya ketika seseorang terlalu percaya pada satu kemungkinan, lalu kehidupan memilih memberikan jawaban yang lain.
Tetapi setelah emosi mulai reda, aku mencoba melihat semuanya dari jarak yang lebih jernih.
Dan dari sana aku menemukan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar rasa kecewa.
Mereka memang lebih layak.
Mereka lebih siap.
Mungkin kami belum cukup matang. Mungkin masih ada banyak hal yang harus kami perbaiki. Mungkin selama ini aku terlalu sibuk melihat seberapa jauh kami telah berjalan, sampai lupa bahwa orang lain juga sedang berlari.
Dan di situlah aku belajar:
kalah dalam sebuah seleksi tidak selalu berarti kalah dalam perjalanan.
Aku masuk sebagai bagian dari Top 80.
Apakah itu sudah bisa disebut juara?
Secara pencapaian, mungkin iya.
Tetapi kalau ditanya apakah itu sudah cukup bagiku?
Belum.
Aku tidak ingin berhenti di sini.
Aku ingin kembali.
Bukan dengan kemarahan karena pernah gagal, tetapi dengan kemampuan yang lebih matang. Bukan sekadar membawa ambisi yang sama, tetapi membawa versi diriku yang sudah jauh lebih siap.
Kalau tahun ini aku datang sebagai seseorang yang berharap menjadi juara, maka tahun depan aku ingin datang sebagai seseorang yang tahu apa yang harus dilakukan untuk menjadi juara.
Aku akan kembali tahun depan.
Dan kali ini, aku ingin membawa pulang sesuatu yang lebih besar.
Bukan hanya pengalaman.
Bukan hanya cerita.
Tetapi kemenangan.
Namun sebelum benar-benar meninggalkan Jakarta, ada satu hal yang ingin kusampaikan.
Terima kasih.
Terima kasih kepada Bank Indonesia dan PIDI Digdaya yang telah memberikan perjalanan luar biasa ini kepada kami.
Enam bulan ini bukan perjalanan yang sederhana. Tetapi semua fasilitas, pengalaman, ruang belajar, orang-orang yang kami temui, dan kesempatan yang diberikan telah menjadi bagian dari cerita yang akan selalu kubawa pulang.
Tidak ada satu pun yang terasa kurang.
Justru aku merasa terlalu banyak hal yang telah diberikan untuk sekadar disebut sebagai sebuah kegiatan.
Ini adalah pengalaman.
Tentang bertemu orang-orang hebat.
Tentang belajar.
Tentang berani bermimpi.
Tentang bekerja bersama.
Dan, yang paling penting, tentang belajar menerima bahwa terkadang hasil terbaik menurut kita bukanlah hasil yang diberikan kehidupan.
Pagi ini, pukul tiga dini hari, aku meninggalkan Jakarta.
Aku pergi menuju Jogja dengan koper, rasa lelah, kenangan, dan sedikit luka di dalam dada.
Tetapi aku tidak pulang sebagai orang yang kalah.
Aku pulang membawa sebuah janji kepada diriku sendiri:
aku akan kembali.
Dan ketika hari itu tiba, semoga aku bukan lagi orang yang hanya bermimpi berada di puncak.
Semoga aku sudah menjadi orang yang pantas berdiri di sana.